Di Munas Kopek II, Joune Ganda Ingatkan Menyusutnya Lahan Perkebunan Akibat Alih Fungsi

7PMNEWS.ID, MANADO-Sebagai daerah pemilik kebun kelapa terluas kedua di Tanah Air, Sulawesi Utara masih menghadapi berbagai tantangan besar tentang masa depan industri kelapa. Karena potensi tersebut tidak cukup hanya diukur dari luas kebun dan besarnya produksi.

Keberlanjutan komoditas kelapa harus dibangun dari hulu hingga hilir, dengan memastikan petani tetap memiliki alasan ekonomi untuk mempertahankan kebunnya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), Joune Ganda, menjelaskan hal tersebut pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Koalisi Pemerintah Daerah Penghasil Kelapa (Kopek) II 2026 di Courtyard Hotel by Marriot Manado,  Rabu, 7 Oktober 2026 yang dirangkaikan dengan World Coconut Day 2026.

Bupati Minahasa Utara itu menyebut Sulawesi Utara memiliki posisi penting dalam industri kelapa nasional. Minahasa Selatan dan Minahasa Utara menjadi dua daerah dengan areal kelapa terluas di Sulut dan masing-masing berada di posisi delapan serta sembilan secara nasional.

Hanya saja, posisi tersebut menghadapi tantangan serius, terutama menyusutnya lahan perkebunan akibat alih fungsi lahan.

Seperti di Minahasa Utara, tekanan tersebut berjalan seiring dengan perkembangan permukiman, kawasan industri dan pergudangan hang berkembang begitu cepat.

“Menjadi sesuatu yang sangat menarik apabila kita mampu meningkatkan produktivitas lahan yang ada,” ujar Joune Ganda.

Selain problem  lahan, Joune Ganda menyoroti usia tanaman kelapa yang sebagian besar merupakan warisan dari generasi sebelumnya. Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya regenerasi petani dan tenaga pemanjat kelapa.

Menurutnya, anak muda cenderung meninggalkan pekerjaan sebagai pemanjat karena tersedia pilihan pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan. Ketidakstabilan harga kopra juga membuat sebagian petani kehilangan motivasi untuk memanen.

Karena itu, Joune Ganda menilai pengembangan industri kelapa harus dibarengi dengan penguatan sektor hulu. Program peremajaan tanaman, penyediaan bibit unggul dan peningkatan produktivitas kebun perlu mendapat perhatian serius.

“Kalau mampu menghidupi, saya yakin tidak perlu disuruh, dia pasti akan tanam,” katanya.

Joune Ganda juga mengingatkan agar program petani milenial tidak berhenti pada pembentukan kelompok atau pemberian bantuan. Prospek bisnis dan kepastian pendapatan harus menjadi bagian utama agar generasi muda benar-benar tertarik bertahan di sektor pertanian.

Di sisi hilir, Minahasa Utara dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri berbasis kelapa. Letaknya yang dekat dengan Pelabuhan Bitung dan Bandara Sam Ratulangi menjadi modal dalam mendukung distribusi maupun pengembangan produk olahan.

Meski demikian, Joune menekankan keberhasilan hilirisasi bukan sekadar bertambahnya pabrik atau volume produksi.

“Industri kelapa harus mampu menciptakan nilai tambah sekaligus memberi dampak ekonomi nyata bagi petani dan masyarakat,” tandasnya

Menurutnya, Apkasi akan terus mendukung berbagai program yang mendorong pengembangan komoditas kelapa, khususnya di daerah-daerah yang masih memiliki potensi lahan kelapa.

Namun, ia menilai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius adalah semakin berkurangnya luas lahan kelapa di sejumlah daerah akibat perkembangan wilayah dan alih fungsi lahan.

Joune Ganda  mencontohkan kondisi di Kabupaten Minahasa Utara. Daerah tersebut, kata dia, pernah menjadi salah satu sentra produksi kelapa dengan luas areal yang besar di Sulawesi Utara. Akan tetapi, perkembangan Minahasa Utara sebagai wilayah yang tumbuh cepat membuat sebagian lahan beralih fungsi menjadi kawasan pergudangan, industri, dan permukiman.

“Memang menjadi sesuatu yang sangat menarik apabila kita mampu meningkatkan produktivitas lahan yang ada,” ujarnya. *

^irvine ferrari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *