Bupati Joune Ganda Perpanjang Status Tanggap Darurat Hingga 21 Oktober

7PMNEWS.ID, AIRMADIDI-Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda kembali memperpanjang status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan, Karhutla dan Angin Kencang di Tanah Tonsea.

Setelah sebelumnya berakhir 7 Oktober 2026, Bupati kembali memperpanjangnya mulai 8 Oktober besok hingga 21 Oktober. Kebijakan akhirnya ditempuh orang nomor satu di Pemkab Minahasa Utara itu karena situasi yang kian memprihatinkan.

Kabut asap tebal yang terpantau Rabu, 7 Oktober 2026, menyelimuti sejumlah wilayah di Minahasa Utara.

Seperti di areal kompleks Kantor Bupati, Desa Laikit, Matungkas, hingga Kelurahan Sukur dan Sarongsong dilaporkan terdampak kepulan asap tebal yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih teratasi di kaki Gunung Klabat.

Perpanjangan Tanggap Darurat yang diambil Bupati Joune Ganda terpaksa ditempuh setelah berdasarkan hasil evaluasi lapangan Tim Reaksi Cepat (TRC), data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta masukan dari jajaran Forkopimda dalam rapat koordinasi menyusul berakhirnya masa tanggap darurat tahap pertama pada 7 Oktober.

Sementara Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, Aris Yunatas, mengungkapkan fakta mengejutkan terkait kondisi iklim saat ini. Menurut pemantauan BMKG, ancaman kekeringan ekstrem tidak hanya melanda Minahasa Utara, melainkan telah meluas ke seluruh kawasan Provinsi Sulawesi Utara.

“Update terbaru menunjukkan seluruh wilayah Sulawesi Utara kini berada dalam kondisi Awas. Sebagian besar daerah bahkan telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 100 hari atau melebihi tiga bulan,” tegas Aris.

Fenomena El Niño kuat yang melanda kawasan ini memicu kemunculan titik panas (hotspot) secara masif. Penumpukan asap dari kebakaran kaki Gunung Klabat dan beberapa Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), yang terbawa pergerakan angin, berdampak fatal pada jarak pandang (visibility).

Akibat pekatnya kabut asap, sejumlah jadwal penerbangan ke Sulawesi Utara bahkan terpaksa dialihkan pendaratannya ke Gorontalo demi keselamatan.

Dampak bencana hidrometeorologi kering ini ternyata tak hanya mengancam keselamatan jiwa dan krisis air bersih, tetapi juga mulai menggerogoti stabilitas ekonomi daerah. *

^irvine ferrari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *