7PMNEWS.ID, RATAHAN-Pasca Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutlah) di sebagian wilayah di kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), para petani yang menggantungkan mata pencaharian mereka pada minuman Cap Tikus mulai merana.
Hal ini setelah pohon enau yang menjadi sumber mata pencaharian mereka rusak akibat kebakaran hutan yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Dampaknya mulai terasa, para petani Cap Tikus sulit untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka mengingat mereka hanya menggantungkan pencaharian mereka pada pohon enau (Seho).
“Kami minta pemerintah memberi perhatian kepada kami para petani Cap Tikus untuk memberikan solusi terhadap kami sumber mata pencaharian kami ini,” ujar salah satu petani Cap Tikus asal Desa Silian.
Tokoh masyarakat Silian Raya Hendra Paat juga angkat bicara soal kegelisahan para masyarakatnya yang hanya menggantungkan harapan hidupnya pada Cap Tikus.
“Kami berharap ada perhatian pemerintah terhadap para petani Cap Tikus di wilayah kami yang saat ini terdampak dari Karhutlah,” ujar Paat, Kamis, 3 September 2026.
Ia menyadari bahwa kondisi saat ini dengan adanya efesiensi anggaran membuat pemerintah menjadikan alasan untuk bergerak namun pemerintah pasti tidak akan membiarkan masyarakatnya merana akibat mata pencaharian mereka hilang akibat bencana. *
^devon pondaag
