7PMNEWS.ID, AIRMADIDI-Puncak musim kemarau mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Lahan pertanian yang terdampak kekeringan terus meluas dan merata dan melonjak signifikan.
Kondisi ini membuat para petani di Minut semakin menjerit dan dihantui potensi gagal panen. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya memutar otak agar tidak rugi total.
Hampir di semua tempat dampak kekeringan mulai terasa. Oleh sebab itu, petani Minut mulai memintakan adanya kepedulian Stakeholder di Tanah Tonsea untuk segera turun tangan.
‘’Dampak kekeringan semakin parah. Karena telah meluas dan merata di semua lahan pertanian yang ada di Minahasa Utara. Ini harus segera diantisipasi dengan keterlibatan para pemanggu jabatan,’’ ujar Arly Dondokambey, petani Minahasa Utara.
Arly yang juga Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Minahasa Utara itu menjelaskan, ditengah puncak musim kemarau yang melanda, maka yang paling medesak adalah ketersediaan pompa air.
‘’Mendesak mengoptimalkan penggunaan mesin pompa air di lapangan,’’ tuturnya.
Petani saat ini mengharapkan ada bantuan pemerintah terkait distribusi mesin pompa air, pipa, dan pembuatan sumur bor untuk menyelamatkan lahan yang belum sepenuhnya kering.
“Bantuan ini diberikan untuk khusus petani yang terdampak. Petani juga mengharapkan adanya bantuan bibit dan pupuk agar bisa kembali menyiapkan masa tanam berikutnya,” pintanya
Dikatakannya, bantuan ini sangat meringankan beban biaya petani yang merugi akibat puso atau kekeringan.
Arly juga nenyarankan adanya stimulan dari pemerintah kepada para petani yang gagal panen dengan mengalokasikan anggaran mendata petani yang gagal panen. *
^irvine ferrari





