Soal Fenomena ‘Pesta Babi’, Ini Pandangan Pastor Pius Corneles, Pr

7PMNEWS.ID, MERAUKE-Diskusi Panel yang digelar oleh Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Papua Selatan menjadi wadah penguatan yang begitu krusial antar sesama pemimpin umat beragama yang ada di Kabupaten Merauke.

Hadir pula pada kesempatan tersebut sosok seorang rohaniawan Pastor Pius Corneles Man, dari konggregasi Projo (Pr) yang dikenal membumi itu. Menilik secarik pesan tentang euforia Pesta Babi yang disampaikan oleh Wakil Ketua I FKUB Papua Selatan dalam sambutan pembukaan kegiatan Diskusi Panel yang digelar, Sabtu, (23/5) ada pesan penting yang menarik.

Pastor Pius Corneles Manu Pr, figur yang dikenal vokal bersuara lantang tentang masyarakat adat dan kepemilikan hak Ulayat nya, memiliki pandangan khusus tentang makna Pesta Babi.

Imam Katolik Roma yang dalam kesehariannya dikenal begitu  bersahaja, mengungkapkan bahwa film yang menarik ini adalah fakta yang diangkat dalam cinematik berkelas.

Menurut Pastor Pius, film yang menyajikan kepiluan ini sangat menarik walau tidak memakai artis papan atas untuk melakoninya tapi terbukti bisa menyedot empati dan menguras emosi seolah khalayak diajak menyelami perjuangan masyarakat adat yang mempertahankan hak ulayatnya.

Sebagai Orang Asli Papua dari Kampung Padua dengan latar belakang kehidupan yang cukup kompleks, Pastor Pius menguraikan ”

“Kami memiliki totem-totem, dan Babi adalah Totem seperti salah satu marga dari Suku Marind yakni Marga Basik-Basik.”

Babi memiliki arti penting bagi kami yang selalu ada dalam ritual-ritual adat kami. Babi memiliki nilai positif sebagai simbol kekuatan.

Sebab karakter Babi sekalipun dalam keadaan terluka bahkan terdesak , babi akan melawan musuhnya, babi akan terus berjuang hingga napas terakhir” … urairai Pastor Pius

Ia melanjutkan, ” Terkait Pesta Babi , bisa jadi khalayak melihat Pesta Babi dari dimensi yang berbeda dari sisi positif dan negatif”

“Pesta Babi adalah etalase yang memperlihatkan kepada setiap orang kenyataan yang sedang terjadi dan dialami oleh masyarakat adat kita…”

Pastor dalam pelayanan kini lebih banyak dihabiskan dengan berdoa di Lapas. membawa komuni bagi orang sakit dan menjadi mengunjungi masyarakat kecil yang hidup di wilayah pinggiran kota.

“Sa mo bilang, kita juga jangan seperti babi yang rakus, mengambil hak orang lain, seenaknya….ingat hukum tabur tuai, ” pesan Pastor menutup percakapan. *

^winona

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *