7PMNEWS.ID, MANADO-Menjalani perjalanan dinamika hidup yang keras hingga kini berada di level tertinggi dalam karirnya sebagai seorang pelatih senam terdepan di Sulawesi Utara tidak membuat seorang Debora Sindoro melupakan campur tangan Sang Pencipta Alam Semesta dalam kehidupannya.
Kendati memiliki jadwal yang memonopoli menyita aktivitas keseharian, Debora Sindoro selalu mendahulukan Tuhan dalam hidupnya.
Baginya, Tuhan number one, sehingga dalam momen Parade Amal Debora Dance Sport 19 Tahun, semuanya diprioritaskan untuk menyentuh masyarakat marginal dengan berbagi kasih.
Salah satunya dengan menyentuh jiwa-jiwa ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP di Gereja Abigail Rutan Manado, Kamis (6/8) pagi.
Pdt Steven Tumbel dihadirkan untuk memberikan Khotbah yang lebih banyak memberikan spirit penguatan, namun di satu sisi, Debora Sindoro meminta diberi kesemptan untuk memberikan kesaksian mengenai kisah hidupnya hingga bisa eksis seperti saat ini.
‘’Beberapa waktu yang lalu saya menerima diagnosis bahwa saya memiliki penyakit ** jujur, saat pertama kali mendengarnya, kami syok.
Namun di tengah semua pertanyaan itu, Tuhan mengingatkan saya bahwa diagnosis dokter bukanlah identitas saya. Diagnosis menjelaskan kondisi tubuh saya, tetapi Tuhan tetap memegang kendali atas hidup saya.
Saya bersyukur karena sampai hari ini Tuhan masih memberi saya kekuatan untuk menjalani aktivitas, bekerja, melayani, berolahraga sesuai kemampuan, dan tetap menjadi berkat bagi banyak orang. Saya percaya setiap napas yang saya hirup adalah anugerah dari Tuhan.
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”
Karena itu, saya memilih untuk hidup dalam iman, bukan dalam ketakutan. Saya tetap menjaga kesehatan, mengikuti anjuran medis, tetapi pengharapan terbesar saya tetap hanya kepada Tuhan. Saya percaya bahwa umur saya bukan ditentukan oleh rasa takut, melainkan oleh Tuhan yang berdaulat atas hidup saya.
Hari ini saya ingin menguatkan siapa pun yang sedang bergumul dengan penyakit. Jangan biarkan diagnosis mencuri sukacita dan pengharapanmu.
Penyakit mungkin menjadi bagian dari perjalanan hidup kita, tetapi Tuhan tetap menjadi Pribadi yang memegang akhir dari perjalanan itu.
Selama Tuhan masih memberi napas, saya akan terus hidup dengan penuh syukur, melayani dengan sukacita, mengasihi sesama, dan memuliakan nama-Nya. ‘’
Kisah yang menyentuh dari seorang Debora Sindoro, seorang Ibu Rumah Tangga yang membangikan kisah hidupnya, dengan tidak melupakan Tuhan. *
^pas m
