7PMNEWS.ID, SIAU-Langkah Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, terhenti di tepian aliran air berlumpur yang masih menyisakan jejak amukan banjir bandang di Pulau Siau.
Puing-puing kayu, bebatuan, hingga material hanyut berserakan di sepanjang lintasan air, menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana yang mengguncang wilayah kepulauan itu.
Dengan raut wajah serius, Gubernur menyusuri kawasan terdampak bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulawesi Utara.
Sesekali ia menunjuk permukiman warga yang rusak, berhenti mendengarkan laporan lapangan, lalu menatap akses jalan dan rumah-rumah yang porak-poranda. Di tengah batu, lumpur dan sisa genangan, ia tak sekadar melihat, tetapi memastikan.Kunjungan kerja tersebut dilakukan Selasa (6/1) sebagai respons cepat Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara terhadap bencana banjir bandang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).
Fokus peninjauan diarahkan ke Lindongan III, Kelurahan Bahu, Kecamatan Siau Timur, salah satu titik terdampak terparah.
Dalam rombongan, turut hadir Bupati Sitaro Chintya Kalangit, Pangdam XIII/Merdeka Mayjen TNI Mirza Agus, serta Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Ricky Langie.
Kehadiran unsur pimpinan lintas sektor itu menegaskan kuatnya sinergi dalam penanganan bencana.
Rombongan bertolak dari Manado menuju Siau menggunakan pesawat perintis Susi Air dengan nomor registrasi PK-BVJ, menembus jarak dan cuaca demi memastikan negara hadir di saat genting.
Setibanya di lokasi, Gubernur meninjau sejumlah titik terdampak lainnya, berdialog langsung dengan warga, serta memantau langkah-langkah penanganan darurat di lapangan.
Lebih dari sekadar kunjungan, kehadiran Gubernur Yulius Selvanus di tengah lokasi bencana menjadi pesan kuat bahwa pemerintah tidak tinggal diam.
Di antara batu, lumpur, puing, dan kecemasan warga, peninjauan itu menjadi simbol kepedulian sekaligus langkah awal memastikan bantuan dan penanganan berjalan cepat, tepat, dan menyentuh kebutuhan paling mendesak.
Sebelum berangkat ke Siau, pukul 08.00 Wita, Gubernur Yulius Selvanus memimpin rapat bersama Forkopimda dan para pemangku kepentingan di Wisma Negara Bumi Beringin, Manado.
Rapat tersebut membahas langkah antisipasi pascabencana, dengan fokus utama pada evakuasi dan penyelamatan korban.
Seluruh unsur diminta mengerahkan dukungan maksimal, termasuk pelibatan TNI, Polri, dan Aparatur Sipil Negara untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Bencana banjir bandang di Siau juga telah dilaporkan kepada Menteri Dalam Negeri dan mendapat perhatian pemerintah pusat.
Bantuan dari pemerintah pusat dijadwalkan segera disalurkan untuk mendukung penanganan darurat dan pemulihan awal.
Sementara, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara turut membuka Posko Bantuan kemanusiaan di lobi Kantor Gubernur Sulut. Masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan dapat berkoordinasi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Utara.
Sehari sebelumnya pula, Gubernur Yulius Selvanus telah mengirimkan bantuan awal.
Politisi Partai Gerindra itu tampak memeriksa langsung tumpukan karung-karung putih berisi beras dan kardus logistik yang memenuhi lambung kapal.
Ini bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan misi kemanusiaan bertajuk Sigap Bersama Bantu Sesama.
Kapal-kapal TNI dikerahkan untuk memastikan bantuan menembus ombak menuju kepulauan, menjangkau warga yang masih terisolasi.
Di dalam perut kapal, aroma beras putih memenuhi udara. Gubernur menepuk salah satu tumpukan karung beras—sekitar 500 paket logistik telah disiapkan, berisi beras, makanan siap saji, dan kebutuhan pokok lainnya.
“Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Sulut menyampaikan duka yang mendalam atas peristiwa banjir bandang yang terjadi di Siau. Kami sangat prihatin dengan kejadian ini,” ujar Gubernur Yulius.
Ia menegaskan Pemprov Sulut akan hadir dan memberikan dukungan penuh, baik dalam penanganan darurat maupun pemulihan pascabencana.
“Pemerintah Provinsi akan semaksimal mungkin membantu meringankan beban masyarakat di Siau. Koordinasi dengan pemerintah kabupaten, TNI, Polri, dan instansi terkait terus dilakukan agar penanganan berjalan cepat dan tepat sasaran. Kita semua berharap cuaca segera kembali normal,” tegasnya.
Diketahui, bencana banjir bandang ini dipicu hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Sitaro selama kurang lebih lima jam tanpa henti. Aliran air bercampur material batu, tanah, dan kayu meluap dan menerjang permukiman warga.
Bencana tersebut berdampak luas di Kecamatan Siau Timur, meliputi Kelurahan Paniki, Paseng, Bahu, serta Kampung Bumbiha, Peling, Laghaeng, Batusenggo, Beong, dan Salili. Selain kerusakan material, bencana ini menimbulkan korban jiwa, korban hilang, dan luka-luka.
Berdasarkan data sementara, tercatat 16 orang meninggal dunia, tiga orang hilang, dan 22 orang mengalami luka-luka. Dua korban luka berat direncanakan dirujuk ke rumah sakit di Kota Manado untuk penanganan medis lanjutan.
Pemerintah Kabupaten Sitaro telah menetapkan status tjanggap darurat bencana selama 14 hari guna mempercepat proses penanganan dan pemulihan di wilayah terdampak. *
#embi gandaria
(siau)
