7PMNEWS.ID, MANADO-Di momen religius, Lebaran kedua, Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay hadir di jantung Kampung Arab Manado untuk menghadiri Iwadh, tradisi keagamaan turun temurun umat Muslim yang kembali dihidupkan.
Iwadh merupakan tradisi leluhur yang bukan hanya sekadar perayaan tapi merupakan warisan budaya masyarakat keturunan Arab yang telah dijaga lebih dari sembilan dekade. Dari generasi ke generasi, tradisi ini menjadi ruang perjumpaan hati, saling memaafkan, menguatkan, dan merawat nilai-nilai kebersamaan yang mulai langka di tengah arus modernitas.
Sebelum kehadiran Gubernur, Wagub, Walikota Manado, aandrei Angouw dan sejumlah pejabat Pemprov, diantaranya Sekprov, Deny Mangala dan Plt Kadispora Sulut, Audy Pangemanan, Minggu (22/3), sejak pagi, lorong-lorong kampung dipenuhi langkah kaki warga yang berjalan dari rumah ke rumah. Di setiap pintu yang terbuka, doa-doa dilantunkan oleh imam dan tokoh agama, mengalun lembut bersama iringan rebana hadroh. Bukan sekadar ritual, tetapi sebuah simbol kuat bahwa silaturahmi adalah fondasi utama kehidupan bermasyarakat. Warga menyambut dengan wajah berseri, menyuguhkan hidangan khas, menghadirkan suasana yang hangat, akrab, dan penuh rasa syukur setelah sebulan menjalani Ramadan.
Kehadiran Gubenur Yulius Selvanus memberi nuansa dan makna tersendiri. Kehadiran pemerintah bukan hanya simbol formalitas, tetapi bentuk nyata kedekatan pemimpin dengan masyarakat. Mereka berjalan bersama warga, menyapa, bersalaman, dan larut dalam suasana kebersamaan yang tulus, tanpa sekat, tanpa jarak.
Tradisi Iwadh bukan hanya milik Kampung Arab. Ia telah menjadi wajah kerukunan Kota Manado yang dikenal sebagai ruang hidup toleransi dan harmoni. “Di tengah keberagaman, tradisi ini menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berjarak, tetapi justru kekuatan untuk saling menguatkan. Nilai-nilai Islam yang dibawa dalam Iwadh tampil ramah, terbuka, dan menyatu dengan kearifan lokal,” ungkap Plt Kadispora Audy Pangemanan. *
#kresno doot





