7PMNEWS.ID, AIRMADIDI– Bupati Minahasa Utara DR. Joune Ganda, MM, MAP, MSi kembali melakukan terobosan dengan menghadirkan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) di Bumi Tonsea. Ini sebagai tindak lanjut Nota Kerja Sama Bupati Joune Ganda dengan Kepala BRIN tahun 2025 lalu.
Hal ini terungkap saat Bupati Joune Ganda menerima kunjungan 10 pakar peneliti senior BRIN di Kantor Bupati Minut, Jumat (13/03).
Riset dan inovasi, kata Joune Ganda penting dan strategis dalam keberlangsungan pembangun.
“Riset dan inovasi sangat dibutuhkan untuk basic. Pembangunan berbasis riset itu penting,” kata Bupati yang juga Sekjen Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).
“Kami sambut baik kebijakan BRIN untuk hadir dan berkolaborasi di daerah,” sambung Joune Ganda yang didampingi Kepala Brida Minut Lidya Warouw.
Kehadiran BRIN di Minahasa Utara, lanjutnya, adalah sebuah langkah maju dan strategis.
“Kolaborasi ini bisa dikembangkan tidak hanya dengan Pemkab Minut tetapi bisa dengan perusahaan – perusahaan yang membutuhkan pendampingan riset,” ujarnya.
Menurutnya, semua lembaga baik pemerintah maupun swasta membutuhkan riset sebagai panduan.
Bupati Joune Ganda berterima kasih karena Minut dipilih dan dipercayakan sebagai model kolaborasi BRIN.
“Terima kasih dan salam hormat saya untuk Ketua Dewan Pengarah BRIN Ibu Megawati Soekarnoputeri dan Kepala BRIN Pak DR. Arief Satria,” ucapnya.
Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., sejak dilantik November 2025 langsung meluncurkan program kolaborasi BRIN dengan pemerintah daerah, yang dimaksudkan untuk mendekatkan BRIN dengan obyek serta persoalan di daerah.
Sementara itu, peneliti senior BRIN DR. Ir. Ismail Maskromo, selaku koordinator delegasi yang didampingi Prof. Jantje Kindangen mengatakan, Minahasa Utara akan jadi kabupaten yang pertama menghadirkan BRIN kolaborasi dengan pemerintah kabupaten.
“Ini kabupaten pertama di Indonesia yang proaktif menghadirkan BRIN di daerah,” kata mantan Kepala Balitpalma Manado ini.
Dijelaskan, kehadiran BRIN di kabupaten bersifat kolaborasi dan fungsional, dan tidak struktural.
“Jadi sifatnya kolaborasi kemitraan. Secara struktural kami tetap BRIN tetapi hadir lebih dekat dengan obyek, dan tidak membebani daerah sebaliknya mendukung pembangunan daerah berbasis riset,” kata Ismail kepada wartawan.
Dijelaskan lagi, BRIN Kolaborasi ini tetap dibawah BRIN pusat.
“Singkatnya, kami ditugaskan untuk hadir di daerah,” jelas Ismail yang dikenal sebagai peneliti dan pakar tanaman kelapa ini.
Sementara itu Prof. Ir. Jantje Kindangen mengapresisi respon dan komitmen positif Bupati DR. Joune Ganda pada kebijakan menghadirkan BRIN di Minahasa Utara.
“Saya dan teman-teman peneliti BRIN patut memberi apresiasi tinggi atas komitmen Pak Joune Ganda yang
responsif dan sangat paham pentingnya riset,” kata peneliti ekonomi pertanian ini. *
#irvine ferrari





